6,4Bos21: siapa bosnya? 155 film disusun menurut sutradara, orang yang berteriak "action" dan "cut"
Di lokasi syuting hanya ada satu bos: sutradara. Di sini 155 film dari 125 sutradara disusun menurut nama mereka. Dua belas daftar: empat bos Indonesia dengan film terbanyak, kelompok tiga film dan dua film, lalu bos perempuan, bintang yang jadi bos, bos legendaris, film pertama, dan film yang dipimpin berdua. Nama sutradara tertulis di bawah tiap poster.
Siapa bosnya? Dua belas daftar sutradara
Bos Riri Riza
Lihat semua (7)Bos Ernest Prakasa
Lihat semua (5)
7,5
7,6
7,6
7,7
7,9Bos Yandy Laurens
Lihat semua (4)Bos Angga Dwimas Sasongko
Lihat semua (4)
7,2
6,2
6,8
8,0Bos dengan tiga film
Lihat semua (12)
7,0
6,6
6,9
8,0
6,7
6,6Bos dengan dua film: Indonesia
Lihat semua (10)
6,2
6,5
7,6
6,9
6,8
8,1Bos dengan dua film: dunia
Lihat semua (14)
7,7
7,6
8,0
7,8
6,0
7,9Dua bos, satu film
Lihat semua (7)
7,7
7,4
6,6
7,1
7,6
6,9Bos perempuan
Lihat semua (27)
7,6
7,7
7,0
7,1
6,8
7,2Bintang yang jadi bos
Lihat semua (21)
7,9
7,6
6,9
7,2
6,8
6,7Bos legendaris
Lihat semua (20)
8,0
7,0
6,6
7,6
7,4
7,9Film pertama sang bos
Lihat semua (8)
8,0
7,6
7,4
6,5
7,7
8,0Panduan Bos21
Bos21: siapa bosnya? 155 film disusun menurut sutradara, orang yang berteriak "action" dan "cut"
Di lokasi syuting ada ratusan orang: pemeran, juru kamera, penata cahaya, penata rias, sopir, juru masak. Semuanya menunggu satu suara. Ketika suara itu berkata "action", kamera berputar. Ketika berkata "cut", semua berhenti. Pemilik suara itu adalah sutradara, dan di dunia film dialah bosnya.
Bos21 menyusun katalognya menurut para bos itu. Di sini ada 155 film karya 125 sutradara: 108 film internasional dan 47 film Indonesia. Di bawah tiap poster ada kartu nama kecil bertuliskan "Bos:" dan nama sutradaranya. Riri Riza. Ernest Prakasa. Yandy Laurens. Tim Burton. Steven Spielberg.
Dan angka di nama kami ternyata punya arti di katalog ini: tepat dua puluh satu sutradara punya lebih dari satu film di sini. Dua puluh satu bos yang bisa Anda ikuti dari satu film ke film berikutnya. Untuk perkenalan singkat, buka Mulai di Bos21.
Mengapa memilih film dari sutradaranya
Karena sutradara adalah jaminan rasa. Pemeran berganti peran, genre berganti musim, dan tangan sutradara tetap terasa. Orang yang menyukai Keluarga Cemara hampir pasti menyukai 1 Kakak 7 Ponakan, karena keduanya lahir dari kepekaan yang sama terhadap keluarga. Orang yang tertawa di Cek Toko Sebelah akan tertawa lagi di Susah Sinyal.
Karena cara ini mengajak kita menonton lebih dalam. Mengikuti seorang sutradara berarti melihat ia tumbuh: film pertamanya yang berani, film tengahnya yang matang, film terbarunya yang tenang. Di Bos21 Anda bisa mengikuti Riri Riza selama dua puluh tiga tahun, dari 2000 sampai 2023.
Dan karena nama sutradara jarang tertulis besar di poster. Kita hafal bintang filmnya dan lupa siapa yang memimpin. Kartu nama di bawah poster membetulkan hal itu, satu film demi satu film. Gagasannya dijelaskan di Siapa bosnya?
Dua belas daftar para bos
Dengan 125 sutradara, terlalu banyak bila tiap nama diberi satu daftar. Maka kami menyusun dua belas daftar dalam tiga kelompok. Kelompok pertama, Bos besar: empat sutradara Indonesia dengan film terbanyak, masing-masing dengan daftar sendiri.
Kelompok kedua, Kelompok bos: sutradara dengan tiga film, sutradara dengan dua film dari Indonesia, sutradara dengan dua film dari dunia, dan film yang dipimpin dua sutradara sekaligus. Kelompok ketiga, Pilihan: bos perempuan, bintang yang jadi bos, bos legendaris, dan film pertama sang bos.
Sebuah film boleh masuk ke beberapa daftar. Petualangan Sherina ada di daftar Riri Riza dan di daftar film pertama. Dari 155 film, 98 muncul di sekurangnya satu daftar. Sisanya 57 film, kebanyakan dari sutradara yang punya satu judul saja di sini, dan semuanya dapat dicari lewat nama sang bos di kotak pencarian.
Papan para bos di beranda
Di bagian atas beranda ada papan dengan tiga baris. Baris merah untuk Bos besar, baris gelap untuk Kelompok bos, dan baris hijau kebiruan untuk Pilihan. Di tiap baris berjajar tiket bernomor 01 sampai 12, masing-masing memuat nama daftar dan jumlah filmnya.
Di bawah papan ada dua belas baris poster. Tiap poster membawa lencana kuning berisi rating, lencana gelap berisi tahun, dan di bawahnya kartu nama putih bergaris merah: "Bos:" dan nama sutradara. Untuk film yang dipimpin berdua, kedua nama tertulis berdampingan.
Di bawah kartu nama ada judul film, genre utama, dan durasi. Lima keterangan dalam satu kartu: siapa bosnya, kapan, seberapa disukai, jenis apa, dan berapa lama.
Bos 01: Riri Riza, tujuh film
Sutradara dengan film terbanyak di katalog, dan rentang kariernya paling panjang: dari 2000 sampai 2023. Tujuh film, 842 menit, dan hampir semuanya menjadi tonggak.
Petualangan Sherina pada tahun 2000 adalah film panjang pertamanya: musikal anak yang membuat bioskop Indonesia ramai kembali, dengan rating 7,9. Lima tahun kemudian ia membuat Gie, potret seorang aktivis muda tahun enam puluhan, 140 menit yang tenang dan serius. Dua film itu sudah menunjukkan lebarnya jangkauan sang bos.
Laskar Pelangi pada 2008 mengangkat novel paling laris di negeri ini ke layar, dan Sang Pemimpi setahun kemudian melanjutkannya. Ada Apa Dengan Cinta? 2 pada 2016 mempertemukan lagi Cinta dan Rangga di Yogyakarta. Bebas pada 2019, kisah geng SMA yang berkumpul lagi, meraih rating 8,0, tertinggi di daftarnya.
Dan pada 2023 lingkaran itu tertutup: Petualangan Sherina 2, dua puluh tiga tahun sesudah film pertama, dengan pemeran yang sama dan sutradara yang sama. Jarang ada bos yang mendapat kesempatan menengok kembali awal kariernya seperti itu.
Bos 02: Ernest Prakasa, lima film
Lima film dalam tujuh tahun, dari 2016 sampai 2022, dengan rata-rata rating 7,66. Seluruh filmnya berating 7,5 ke atas: konsistensi yang langka.
Ernest Prakasa datang dari panggung komedi tunggal, dan filmnya membawa kebiasaan panggung itu: tawa yang padat, lalu jeda untuk haru. Cek Toko Sebelah pada 2016 bercerita tentang anak yang diminta meneruskan toko kelontong ayahnya. Susah Sinyal pada 2017 tentang ibu dan putrinya. Milly & Mamet pada 2018 tentang pasangan muda dengan bayi pertama.
Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan pada 2019 berbicara tentang penerimaan diri, dan Cek Toko Sebelah 2 pada 2022 meraih rating 7,9, tertinggi di antara kelimanya. Ia juga bermain di film-filmnya sendiri, sehingga namanya muncul pula di daftar bintang yang jadi bos.
Kelima filmnya rilis pada akhir Desember, masa libur sekolah. Bos yang satu ini tahu persis kapan keluarga Indonesia pergi ke bioskop.
Bos 03: Yandy Laurens, empat film
Empat film, dan rata-rata ratingnya 8,17: tertinggi di antara semua sutradara yang punya lebih dari satu film di katalog. Bila Bos21 punya juara, dialah orangnya.
Keluarga Cemara pada 2019 adalah film panjang pertamanya, dengan rating 8,0. Jatuh Cinta Seperti di Film-Film pada 2023 meraih 8,8, rating tertinggi di seluruh katalog: film hitam-putih tentang penulis skenario yang jatuh cinta. Pada 2025 ia melepas dua film sekaligus: 1 Kakak 7 Ponakan dengan 8,4 dan Sore: Istri Dari Masa Depan dengan 7,5.
Dua filmnya tentang keluarga, dua tentang cinta, dan keempatnya punya tanda tangan yang sama: dialog yang terdengar seperti percakapan sungguhan, dan air mata yang datang dengan sopan. Ringgo Agus Rahman dan Nirina Zubir bermain di dua filmnya.
Bos 04: Angga Dwimas Sasongko, empat film
Empat film dari 2015 sampai 2023, dengan jangkauan genre paling lebar di antara empat bos besar. Filosofi Kopi pada 2015 adalah kisah dua sahabat dan sebuah kedai kopi. Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 pada 2018 adalah silat jenaka dengan efek visual besar.
Lalu ia berbelok ke drama keluarga: Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini pada 2020, dan Hari Ini Akan Kita Ceritakan Nanti pada 2023 dengan rating 8,0. Dua film itu bercerita tentang satu keluarga pada dua masa, dan judulnya saling bercermin.
Dari kedai kopi ke dunia persilatan, lalu ke ruang makan sebuah keluarga: empat film, tiga dunia. Keempat bos besar dibahas bersama di Empat bos besar.
Daftar 05: bos dengan tiga film
Empat sutradara masing-masing punya tiga film di katalog, dan keempatnya sangat berbeda watak. Bersama-sama mereka mengisi daftar berisi dua belas film.
Hanung Bramantyo adalah bos film-film besar Indonesia. Di sini ada Catatan Akhir Sekolah dari 2005, lalu dua film sejarah: Kartini pada 2017 dan Bumi Manusia pada 2019, yang dengan 181 menit menjadi film terpanjang di katalog. Dari remaja SMA ke tokoh bangsa: perjalanan seorang sutradara dalam empat belas tahun.
Tim Burton adalah bos dunia ganjil yang indah: Charlie and the Chocolate Factory, Alice in Wonderland, dan Dumbo. Warnanya pekat, tokohnya eksentrik, dan Johnny Depp muncul di dua yang pertama. Jon Favreau adalah bos serba bisa: komedi liburan Elf, film makanan Chef yang ia bintangi sendiri, dan The Jungle Book dengan hewan-hewan buatan komputer.
Lasse Hallström adalah bos yang lembut. Dua film anjingnya, Hachi: A Dog's Tale dengan rating 8,0 dan A Dog's Purpose dengan 7,6, termasuk yang paling menguras air mata di katalog. Film ketiganya, The Map That Leads to You, adalah romansa perjalanan dari 2025.
Daftar 06: bos dengan dua film, Indonesia
Lima sutradara Indonesia punya dua film di sini, sepuluh film seluruhnya. Joko Anwar memberi contoh rentang paling lebar: Janji Joni pada 2005, komedi ringan tentang pengantar rol film, dan Gundala pada 2019, film pahlawan super yang kelam. Empat belas tahun dan dua dunia.
Fajar Bustomi memimpin Dilan 1990 dan Dilan 1991 bersama Pidi Baiq, penulis novelnya. Ody C. Harahap membuat dua komedi hangat: Sweet 20 dan Orang Kaya Baru. Sabrina Rochelle Kalangie melompat jauh dari Terlalu Tampan pada 2019 ke Home Sweet Loan pada 2024, yang meraih rating 8,1.
Dan Upi, yang memimpin komedi kantor My Stupid Boss lalu film pahlawan super Sri Asih. Dua bos perempuan ada di daftar ini, dan keduanya juga hadir di daftar bos perempuan.
Daftar 07: bos dengan dua film, dunia
Tujuh sutradara internasional dengan dua film, empat belas film seluruhnya, dari 1985 sampai 2026. Yang paling terkenal Richard Linklater dengan sepasang film yang dibuat berjarak sembilan tahun: Before Sunrise dan Before Sunset. Rata-rata ratingnya 7,9, tertinggi di daftar.
John Hughes menyumbang dua film remaja yang mendefinisikan satu dekade: The Breakfast Club pada 1985 dan Ferris Bueller's Day Off pada 1986. John Carney membuat dua film musik Irlandia: Sing Street dengan rating 7,9 dan Flora and Son.
Empat nama lain bekerja di wilayah komedi ringan. Mark Waters dengan Mr. Popper's Penguins dan La Dolce Villa. Steve Carr dengan Are We Done Yet? dan Middle School: The Worst Years of My Life. Carlson Young dengan Upgraded dan The Last Sunrise. Janeen Damian dengan Irish Wish dan The Wrong Paris.
Daftar 08: dua bos, satu film
Kadang kursi sutradara diduduki berdua. Tujuh film di katalog dipimpin sepasang sutradara, dan cara mereka berbagi kuasa berbeda-beda.
Ada pasangan suami istri: Valerie Faris dan Jonathan Dayton, yang membuat Little Miss Sunshine dengan rating 7,7. Ada kakak beradik: Jon dan Andrew Erwin di American Underdog, serta Charles dan Daniel Kinnane di Home Team. Ada dua sahabat: Tyler Nilson dan Michael Schwartz, yang membuat The Peanut Butter Falcon sebagai film pertama mereka.
Di Indonesia, Dilan 1990 dan Dilan 1991 dipimpin sutradara dan penulis novelnya sekaligus, supaya suara Dilan di layar setia pada suara di buku. Dan Critical Eleven dipimpin Robert Ronny bersama Monty Tiwa. Tujuh film, rata-rata rating 7,18: dua kepala ternyata bekerja dengan baik.
Daftar 09: bos perempuan
Dua puluh tujuh film di katalog disutradarai perempuan, dari 1988 sampai 2026. Inilah daftar terbesar di Bos21, dan salah satu yang paling menyenangkan untuk dijelajahi.
Tiga nama membuka jalan di Hollywood. Penny Marshall membuat Big pada 1988, dan film itu menjadikannya salah satu sutradara perempuan pertama dengan film berpenghasilan raksasa. Nora Ephron menulis dan memimpin You've Got Mail pada 1998. Nancy Meyers menulis dan memimpin The Holiday pada 2006. Tiga perempuan itu membentuk wajah komedi romantis modern.
Generasi berikutnya lebih beragam. Sian Heder membuat CODA dengan rating 7,9. Gurinder Chadha membuat Blinded by the Light. Phyllida Lloyd membawa Mamma Mia! dari panggung ke layar. Elizabeth Banks memimpin Pitch Perfect 2, dan Trish Sie melanjutkan dengan Pitch Perfect 3. Kate Winslet memulai karier barunya dengan Goodbye June.
Dua film berating tertinggi di daftar ini sama-sama dari 2026: Voicemails for Isabelle karya Leah McKendrick dengan 8,3 dan The Love Hypothesis karya Claire Scanlon dengan 8,2. Dari Indonesia ada lima film: dua karya Upi, dua karya Sabrina Rochelle Kalangie, dan A Perfect Fit karya Hadrah Daeng Ratu. Selengkapnya di Bos perempuan.
Daftar 10: bintang yang jadi bos
Dua puluh satu film dipimpin orang yang lebih dulu dikenal di depan kamera atau di atas panggung. Rata-rata ratingnya 7,37, salah satu yang tertinggi di antara dua belas daftar. Orang yang pernah diarahkan rupanya tahu cara mengarahkan.
Ron Howard adalah contoh paling lengkap: bintang cilik televisi yang tumbuh menjadi sutradara A Beautiful Mind. Rob Reiner, yang lama dikenal sebagai pemeran komedi, membuat Flipped dengan rating 8,0. Harold Ramis membuat Groundhog Day. Penny Marshall membuat Big.
Sebagian memimpin sambil bermain. Ben Stiller menyutradarai dan membintangi The Secret Life of Walter Mitty. Jon Favreau melakukan hal serupa di Chef. Kenneth Branagh memfilmkan masa kecilnya sendiri dalam Belfast. Taika Waititi membuat Hunt for the Wilderpeople. Lin-Manuel Miranda, bintang panggung musikal, membuat tick, tick... BOOM!
Dari Indonesia, Ernest Prakasa mengisi lima tempat sekaligus. Dan dua aktris muda membuktikan diri di kursi sutradara: Carlson Young dengan dua film, dan Leah McKendrick dengan film berating tertinggi di daftar ini. Uraiannya ada di Bintang yang jadi bos.
Daftar 11: bos legendaris
Dua puluh film dari enam belas sutradara yang namanya sudah menjadi jaminan. Seluruhnya film internasional, dari 1964 sampai 2022, dengan rata-rata rating 7,35.
Steven Spielberg hadir dengan satu film, dan itu cukup: Jurassic Park, rating 8,0. Martin Scorsese hadir dengan Hugo, surat cintanya kepada para perintis sinema. Francis Ford Coppola dengan Tucker: The Man and His Dream. Peter Jackson dengan The Hobbit: The Desolation of Smaug. David Fincher dengan The Social Network.
Barry Levinson dengan Rain Man, Ron Howard dengan A Beautiful Mind, Baz Luhrmann dengan Elvis, Cameron Crowe dengan We Bought a Zoo, dan Michael Apted dengan pelayaran ke Narnia. Yang tertua Robert Stevenson, sutradara Mary Poppins dari 1964.
Tiga nama punya lebih dari satu film di daftar ini: Tim Burton dengan tiga, serta Richard Linklater dan John Hughes dengan dua. Dan dua nama, Rob Reiner dan Kenneth Branagh, juga tercatat di daftar bintang yang jadi bos. Uraiannya ada di Bos legendaris.
Daftar 12: film pertama sang bos
Delapan film panjang pertama dari sutradaranya, dengan rata-rata rating 7,5. Film pertama punya tenaga khusus: sang bos mempertaruhkan segalanya, dan sering kali memasukkan semua yang ia cintai.
Empat dari Indonesia. Petualangan Sherina dari Riri Riza pada 2000. Janji Joni dari Joko Anwar pada 2005. Keluarga Cemara dari Yandy Laurens pada 2019, langsung dengan rating 8,0. Dan Jumbo dari Ryan Adriandhy pada 2025, animasi berating 7,7.
Empat dari luar negeri. Lion adalah film panjang pertama Garth Davis, dan langsung meraih rating 8,0. The Peanut Butter Falcon adalah debut dua sahabat. tick, tick... BOOM! adalah debut Lin-Manuel Miranda sebagai sutradara film. Dan Goodbye June adalah debut Kate Winslet.
Tiga dari delapan film pertama ini berating 7,9 ke atas. Dan tiga sutradaranya, Riri Riza, Joko Anwar, dan Yandy Laurens, kemudian punya lebih banyak film di katalog: bukti bahwa awal yang kuat membuka jalan panjang. Kisahnya ada di Film pertama sang bos.
Para bos dalam angka
Seratus dua puluh lima sutradara untuk 155 film. Seratus empat di antaranya hadir dengan satu film, dan dua puluh satu dengan lebih dari satu. Angka terakhir itulah yang kebetulan sama dengan nama kami: dua puluh satu bos yang bisa diikuti.
Rinciannya: satu bos dengan tujuh film, satu dengan lima, dua dengan empat, empat dengan tiga, dan tiga belas dengan dua film. Dua puluh satu orang itu bersama-sama memimpin 56 film, lebih dari sepertiga katalog. Sebelas di antaranya orang Indonesia, dan mereka memimpin 33 dari 47 film Indonesia di sini.
Artinya film Indonesia di katalog lebih terpusat pada sedikit nama: dua dari tiga film nasional dibuat oleh sutradara yang punya film lain di sini. Di sisi internasional sebaliknya: 108 film dibagi di antara hampir seratus sutradara, dan kebanyakan hadir sekali saja.
Bos mana yang paling konsisten
Di antara dua puluh satu bos, rata-rata rating tertinggi dimiliki Yandy Laurens dengan 8,17. Di belakangnya Richard Linklater dengan 7,9, lalu Ernest Prakasa dengan 7,66 dan John Hughes dengan 7,65. John Carney meraih 7,4 dari dua film musiknya.
Yang paling rapat rentangnya adalah Ernest Prakasa: film terendahnya 7,5 dan tertingginya 7,9, selisih empat persepuluh angka dari lima film. John Hughes lebih rapat lagi dengan dua film: 7,7 dan 7,6. Penonton tahu persis apa yang akan mereka dapat.
Yang paling lebar rentangnya adalah Riri Riza: dari 6,3 untuk Gie sampai 8,0 untuk Bebas. Itu harga dari keberanian mencoba banyak hal: film anak, film sejarah, film remaja, film nostalgia. Sabrina Rochelle Kalangie juga lebar, dari 6,5 ke 8,1, dan arahnya menanjak.
Bos dan pemeran langganannya
Sutradara yang baik sering punya pemeran kesayangan. Riri Riza dan Sherina Munaf bertemu di dua film berjarak dua puluh tiga tahun, dan Nicholas Saputra bermain untuknya di Gie serta Ada Apa Dengan Cinta? 2. Yandy Laurens mengandalkan Ringgo Agus Rahman dan Nirina Zubir sebagai pasangan di dua film.
Fajar Bustomi dua kali memimpin Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla sebagai Dilan dan Milea. Richard Linklater dua kali memimpin Ethan Hawke dan Julie Delpy, dan ketiganya menulis lanjutan itu bersama. Tim Burton dua kali memanggil Johnny Depp.
Ernest Prakasa punya langganan paling setia: dirinya sendiri, yang bermain di film-filmnya. Dan Lasse Hallström punya langganan berkaki empat: dua dari tiga filmnya dibintangi anjing.
Penulis yang naik ke kursi bos
Beberapa bos di katalog berangkat dari meja tulis. Nora Ephron dan Nancy Meyers lebih dulu terkenal sebagai penulis skenario sebelum menyutradarai You've Got Mail dan The Holiday. Aline Brosh McKenna, penulis sejumlah komedi populer, memimpin sendiri Your Place or Mine.
Stephen Chbosky adalah novelis yang kemudian menyutradarai Wonder. John Hughes menulis hampir semua filmnya sendiri. Cameron Crowe berangkat dari dunia jurnalistik musik sebelum membuat film seperti We Bought a Zoo.
Dan di Indonesia, Pidi Baiq menulis novel Dilan lalu ikut duduk sebagai sutradara pendamping di dua filmnya. Bos yang berangkat dari tulisan biasanya meninggalkan jejak yang sama: dialog yang enak dikutip.
Bos dengan satu film yang patut dikenal
Seratus empat sutradara hadir dengan satu film, dan banyak di antaranya layak dicari namanya. Bene Dion Rajagukguk membuat Ngeri-Ngeri Sedap dengan rating 8,0. Rudi Soedjarwo membuat Ada Apa dengan Cinta? yang pertama. Rizal Mantovani membuat 5 cm. Sunil Soraya membuat Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
Dari luar negeri: Stephen Chbosky dengan Wonder, Ericson Core dengan Togo, Simon Curtis dengan The Art of Racing in the Rain, dan Paul King dengan Paddington. Keempat filmnya berating 7,1 ke atas.
Cara menemukan mereka mudah: ketik nama sang bos di kotak pencarian, atau buka halaman film dan lihat baris sutradara. Petunjuknya ada di Pencarian, dan daftar namanya di Bos dengan satu film.
Kartu nama di bawah poster
Tiap poster di Bos21 membawa tiga tanda. Di sudut kiri atas, lencana kuning berisi rating penonton dengan koma desimal. Di sudut kanan atas, lencana gelap berisi tahun rilis. Dan di bawah poster, kartu nama putih bergaris merah: kata "Bos:" dengan huruf merah kecil, lalu nama sutradara.
Untuk film yang dipimpin berdua, kedua nama ditulis dengan tanda "&" di antaranya, seperti "Fajar Bustomi & Pidi Baiq". Di bawah kartu nama ada judul film, genre utama, dan durasi dalam menit.
Kartu nama yang sama tampil di hasil pencarian dan di Daftar Saya. Sesudah beberapa kali berkunjung, Anda akan mulai mengenali nama-nama itu, dan memilih film dari bosnya terasa wajar. Penjelasannya ada di Kartu nama bos.
Halaman film dan tombol Tonton sekarang
Tekan poster untuk membuka halaman film: judul, tahun, durasi, rating, genre, sinopsis berbahasa Indonesia, pemeran utama, dan sutradara. Di bagian bawah ada film lain dari daftar yang sama, sehingga dari satu film Riri Riza Anda bisa langsung melompat ke film Riri Riza berikutnya.
Bos21 adalah panduan: tugasnya mengenalkan film dan menunjukkan jalannya. Di bagian "Tempat menonton" ada daftar negara dan tombol Tonton sekarang. Pilih negara Anda, tekan tombolnya, dan halaman judul itu terbuka di JustWatch dengan layanan langganan, sewa, beli, dan gratis yang menyediakannya. Soal bahasa dan teks terjemahan ada di Bahasa dan subtitle.
Mencari lewat nama bos
Kotak pencarian di bilah atas menerima nama sutradara. Ketik "Riri" dan ketujuh filmnya muncul. Ketik "Burton" dan tiga dunia ganjilnya muncul. Ketik "Spielberg" dan dinosaurus datang. Pencarian juga menerima judul, nama pemeran, dan tahun.
Inilah jalan menuju 57 film di luar dua belas daftar. Sutradara dengan satu film tetap bisa ditemukan dengan namanya, dan kartu nama di tiap poster memberi tahu nama apa yang perlu diketik.
Tombol Daftar Saya menyimpan film ke peramban Anda. Petunjuknya ada di Panduan Daftar Saya. Di ponsel, papan bos menjadi tiga blok bertumpuk dan poster tampil dua kolom. Lihat Bos21 di ponsel.
Maraton satu bos
Cara terbaik mengenal seorang sutradara adalah menonton filmnya berurutan. Maraton Yandy Laurens: empat film, 478 menit, delapan jam, dan rata-rata rating 8,17. Mulai dari Keluarga Cemara, akhiri dengan 1 Kakak 7 Ponakan. Satu hari Sabtu yang penuh haru.
Maraton Angga Dwimas Sasongko: empat film, 479 menit, hanya satu menit lebih panjang. Maraton Ernest Prakasa: lima film, 540 menit, sembilan jam tawa. Dan maraton Riri Riza: tujuh film, 842 menit, empat belas jam, paling baik dibagi dua akhir pekan.
Untuk yang lebih singkat: sepasang film Linklater berdurasi 181 menit, sepasang film John Hughes 201 menit, dan sepasang film Dilan 227 menit. Satu malam, satu bos, dua film. Jadwal lengkapnya ada di Maraton satu bos.
Menonton menurut urutan tahun
Bila mengikuti seorang bos, tontonlah menurut urutan pembuatannya. Dengan Riri Riza urutannya: Petualangan Sherina, Gie, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Ada Apa Dengan Cinta? 2, Bebas, lalu Petualangan Sherina 2. Anda akan melihat Indonesia berubah di latar belakang: mobil, ponsel, potongan rambut, dan cara anak muda berbicara.
Dengan Ernest Prakasa urutannya menunjukkan kepercayaan diri yang tumbuh: tiap film sedikit lebih berani menahan tawa demi haru. Dengan Hanung Bramantyo urutannya menunjukkan anggaran yang membesar, dari halaman sekolah ke perkebunan zaman kolonial.
Dan dengan Tim Burton urutannya menunjukkan kesetiaan: 2005, 2010, 2019, dan dunianya tetap sama anehnya.
Tiap bos dan wilayahnya
Kebanyakan sutradara punya wilayah yang paling ia kuasai. Ernest Prakasa: komedi keluarga. Yandy Laurens: drama yang hangat. John Hughes: remaja Amerika. John Carney: musik dan Dublin. Lasse Hallström: hewan dan air mata. Tim Burton: dongeng yang gelap dan manis.
Sebagian kecil justru dikenal karena berpindah-pindah. Jon Favreau melompat dari komedi liburan ke film makanan ke hutan rimba digital. Joko Anwar dari komedi ke pahlawan super. Upi dari kantor ke jagat komik. Angga Dwimas Sasongko dari kopi ke silat ke drama keluarga.
Mengetahui wilayah seorang bos membantu memilih. Bila malam ini Anda ingin kepastian, ikuti bos yang setia pada wilayahnya. Bila ingin kejutan, ikuti bos yang gemar berpindah.
Tiga generasi bos Indonesia
Daftar sutradara Indonesia di katalog memperlihatkan tiga generasi. Generasi pertama memulai kebangkitan film nasional di awal abad ini: Riri Riza dengan Petualangan Sherina pada 2000, Rudi Soedjarwo dengan Ada Apa dengan Cinta? pada 2002, lalu Hanung Bramantyo dan Joko Anwar pada 2005.
Generasi kedua datang pada dekade berikutnya dan membawa penonton kembali berbondong-bondong: Angga Dwimas Sasongko, Ernest Prakasa, Upi, Ody C. Harahap, dan Fajar Bustomi. Film-film mereka antara 2015 dan 2019 mengisi sebagian besar rak komedi dan romansa di sini.
Generasi ketiga adalah bos-bos yang film pertamanya lahir sekitar 2019 dan sesudahnya: Yandy Laurens, Bene Dion Rajagukguk, Sabrina Rochelle Kalangie, dan Ryan Adriandhy. Empat nama itu memegang lima dari tujuh film Indonesia berating 8,0 ke atas, ditambah Jumbo yang 7,7. Masa depan sudah tiba.
Kursus kilat: tujuh film, tujuh bos
Bila Anda ingin mengenal papan ini dalam sepekan, tontonlah satu film dari tujuh bos yang berbeda. Senin: Riri Riza dengan Laskar Pelangi. Selasa: Ernest Prakasa dengan Cek Toko Sebelah. Rabu: Yandy Laurens dengan Keluarga Cemara. Kamis: Angga Dwimas Sasongko dengan Filosofi Kopi.
Jumat: Tim Burton dengan Charlie and the Chocolate Factory. Sabtu: Steven Spielberg dengan Jurassic Park. Minggu: Richard Linklater dengan Before Sunrise. Empat bos Indonesia, tiga bos dunia, tujuh gaya memimpin.
Sesudah sepekan itu, pilih bos yang paling Anda sukai dan habiskan daftarnya. Begitulah seorang penonton menjadi penggemar: mula-mula menyukai sebuah film, lalu menyukai orang di baliknya.
Tanda tangan seorang bos
Bagaimana mengenali tangan sutradara? Perhatikan tiga hal. Pertama, cara ia membuka film. Riri Riza gemar membuka dengan alam terbuka dan anak-anak yang bergerak. Linklater membuka dengan orang yang sedang berbicara. Burton membuka dengan musik yang ganjil dan kamera yang melayang.
Kedua, apa yang ia biarkan lama di layar. Yandy Laurens membiarkan wajah diam lebih lama daripada kebanyakan sutradara, dan di situlah harunya tumbuh. Ernest Prakasa memotong cepat, mengikuti irama lelucon. Hallström menahan kamera pada mata seekor anjing.
Ketiga, bagaimana ia menutup. Hughes menutup dengan lagu dan tinju di udara. Spielberg menutup dengan langit. Dan Linklater menutup dengan pertanyaan yang dibiarkan menggantung sembilan tahun.
Lebih dekat: Hanung Bramantyo
Tiga film Hanung Bramantyo di katalog seperti tiga bab riwayat seorang sutradara. Catatan Akhir Sekolah dari 2005 adalah bab muda: tiga sahabat SMA dengan kamera pinjaman, dibuat dengan semangat dan anggaran kecil. Ratingnya 5,8, terendah di antara ketiganya, dan justru di situlah pesonanya sebagai film awal.
Kartini dari 2017 adalah bab matang: busana Jawa abad kesembilan belas, pendopo, dan Dian Sastrowardoyo sebagai putri bupati yang haus ilmu. Bumi Manusia dari 2019 adalah bab besar: novel Pramoedya, tiga jam, dan Surabaya zaman kolonial yang dibangun ulang.
Dari 110 menit ke 118 menit ke 181 menit, dari halaman sekolah ke panggung sejarah. Mengikuti Hanung berarti menyaksikan ambisi yang terus membesar.
Lebih dekat: Tim Burton, Jon Favreau, Lasse Hallström
Tiga film Tim Burton di sini semuanya dongeng lama yang ia warnai ulang. Charlie and the Chocolate Factory pada 2005 dari buku anak Inggris. Alice in Wonderland pada 2010 dari buku anak yang lebih tua lagi, dan film ini menjadi salah satu yang paling banyak ditonton di katalog. Dumbo pada 2019 dari kartun klasik tentang gajah bertelinga lebar.
Jon Favreau memperlihatkan karier yang zig-zag. Elf pada 2003 adalah komedi liburan yang kini ditonton ulang tiap Desember. Chef pada 2014 adalah film kecil yang ia tulis, sutradarai, dan bintangi sendiri di sela film-film raksasa. The Jungle Book pada 2016 adalah pameran teknologi: seorang anak sungguhan di tengah rimba yang seluruhnya digambar komputer.
Lasse Hallström, sutradara asal Swedia, dikenal karena kelembutannya. Hachi: A Dog's Tale pada 2009 dan A Dog's Purpose pada 2017 berjarak delapan tahun, dan The Map That Leads to You datang delapan tahun kemudian. Tiga film, jeda yang sama, kehangatan yang sama.
Lebih dekat: Joko Anwar, Upi, dan Sabrina Rochelle Kalangie
Joko Anwar kini lebih dikenal lewat film-film menegangkan, dan katalog keluarga kami menyimpan dua sisi lainnya. Janji Joni, film pertamanya, adalah komedi romantis yang lincah tentang cinta pada bioskop. Gundala adalah usahanya membangun jagat pahlawan super Indonesia dari komik lama.
Upi menempuh jalur serupa: dari komedi ke komik. My Stupid Boss pada 2016 adalah salah satu komedi paling laris di masanya, dan Sri Asih pada 2022 melanjutkan jagat yang dibuka Gundala dengan pahlawan perempuan. Dua bos, satu jagat cerita, dua film yang saling menyambung.
Sabrina Rochelle Kalangie adalah nama yang paling cepat menanjak. Terlalu Tampan pada 2019 adalah komedi remaja ringan berating 6,5. Lima tahun kemudian Home Sweet Loan meraih 8,1 dan menjadi salah satu film keluarga terbaik di katalog. Selisih 1,6 angka dalam dua film: salah satu lompatan terbesar di antara semua bos.
Lebih dekat: Linklater, Hughes, dan Carney
Tiga sutradara internasional dengan dua film punya kesamaan: masing-masing setia pada satu kota dan satu usia. Richard Linklater pada dua orang berusia dua puluhan lalu tiga puluhan, di Wina lalu di Paris. Kedua filmnya hampir seluruhnya percakapan sambil berjalan.
John Hughes pada remaja pinggiran Chicago tahun delapan puluhan. The Breakfast Club mengurung lima murid di perpustakaan, dan Ferris Bueller's Day Off melepas tiga murid ke tengah kota. Satu film tentang terkurung, satu tentang bebas, dibuat setahun berselang.
John Carney pada Dublin dan orang-orang yang diselamatkan musik. Sing Street tentang remaja yang membentuk band, dan Flora and Son tentang ibu muda yang belajar gitar. Ketiga bos ini membuktikan bahwa wilayah yang sempit, bila digali dalam, cukup untuk karier yang panjang.
Tahun 2019: delapan bos sekaligus
Satu tahun layak dicatat khusus. Pada 2019, bos-bos Indonesia yang punya lebih dari satu film di katalog seperti berlomba melepas karya: Riri Riza dengan Bebas, Yandy Laurens dengan Keluarga Cemara, Ernest Prakasa dengan Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan, Hanung Bramantyo dengan Bumi Manusia, Joko Anwar dengan Gundala, dan Ody C. Harahap dengan Orang Kaya Baru.
Ditambah Fajar Bustomi dengan Dilan 1991 dan Sabrina Rochelle Kalangie dengan Terlalu Tampan, jumlahnya delapan dari sebelas nama. Delapan bos, delapan film, satu tahun: dari drama keluarga sampai pahlawan super, dari roman sejarah sampai komedi remaja.
Itulah tahun paling subur dalam katalog, dan gambaran betapa ramainya bioskop nasional tepat sebelum layar tutup sementara pada tahun berikutnya.
Jarak antara dua film
Seberapa lama seorang bos menunggu sebelum film berikutnya? Katalog menyimpan jawaban yang beragam. Ernest Prakasa paling rajin: empat film dalam empat tahun berturut-turut, 2016 sampai 2019. Yandy Laurens melepas dua film dalam satu tahun, 2025. Fajar Bustomi membuat dua film Dilan berjarak tiga belas bulan.
Di ujung lain, Richard Linklater menunggu sembilan tahun di antara dua film Before, karena ceritanya memang menuntut pemerannya menua. Joko Anwar berjarak empat belas tahun antara dua filmnya di sini. Dan Riri Riza menunggu dua puluh tiga tahun untuk kembali kepada Sherina.
Jeda panjang punya khasiat. Ketika seorang bos kembali ke tokoh lamanya sesudah belasan tahun, penonton ikut membawa belasan tahun hidup mereka sendiri ke dalam bioskop.
Bos dan buku
Banyak bos di katalog bekerja dari buku, dan cara mereka memperlakukan sumbernya berbeda. Riri Riza mengangkat dua novel Andrea Hirata, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, dengan setia pada semangat kampung Belitung. Hanung Bramantyo mengangkat Bumi Manusia dan memberinya tiga jam penuh.
Fajar Bustomi mengajak penulis novelnya duduk di kursi sebelah. Sunil Soraya mengangkat roman Hamka dengan kemegahan. Rizal Mantovani mengangkat 5 cm dan membawa kamera sungguh-sungguh ke puncak gunung.
Di sisi internasional, Tim Burton menafsir ulang dua buku anak dengan bebas. Peter Jackson memekarkan satu buku tipis menjadi tiga film panjang. Jon Favreau mengangkat The Jungle Book, Paul King mengangkat Paddington, dan Robert Stevenson mengangkat Mary Poppins. Setia atau bebas, ringkas atau mekar: tiap bos memilih jalannya.
Bos untuk tontonan anak
Beberapa sutradara punya bakat khusus berbicara kepada anak-anak. Riri Riza membuktikannya dua kali bersama Sherina. Ryan Adriandhy membuktikannya dengan Jumbo. Tim Burton, dengan caranya yang ganjil, selalu berpihak pada anak yang merasa berbeda.
Robert Stevenson memimpin Mary Poppins dan menggabungkan pemeran sungguhan dengan kartun, teknik yang kala itu ajaib. Paul King membuat beruang digital terasa lebih sopan daripada kebanyakan manusia. Joe Johnston membuat papan permainan menjadi rimba dalam Jumanji.
Dan Marc Forster, dalam Christopher Robin, membuat film anak untuk orang dewasa yang lupa cara bermain. Bila di rumah ada penonton kecil, nama-nama ini layak dicatat.
Dua belas daftar menurut mutu
Bila dua belas daftar diurutkan menurut rata-rata rating, urutannya begini. Yandy Laurens di puncak dengan 8,17. Ernest Prakasa kedua dengan 7,66. Film pertama sang bos ketiga dengan 7,5. Bintang yang jadi bos keempat dengan 7,37, dan bos legendaris kelima dengan 7,35.
Di tengah: dua bos satu film dengan 7,18, Riri Riza dengan 7,1, lalu Angga Dwimas Sasongko dan bos dengan dua film dari Indonesia yang sama-sama 7,03. Di bawahnya bos perempuan dan bos dengan dua film dari dunia, sama-sama 6,98, dan bos dengan tiga film dengan 6,89.
Dua hal menarik dari urutan itu. Pertama, daftar film pertama mengungguli daftar bos legendaris: debut yang segar bisa menandingi nama besar. Kedua, selisih antara daftar tertinggi dan terendah hanya 1,28 angka. Di daftar mana pun Anda memulai, mutunya terjaga.
Memilih bos sesuai suasana malam
Malam yang ingin tertawa bersama keluarga: Ernest Prakasa, film mana pun. Malam yang ingin haru: Yandy Laurens, dan siapkan tisu. Malam yang ingin bernostalgia: Riri Riza dengan Bebas atau John Hughes dengan The Breakfast Club.
Malam yang ingin takjub: Steven Spielberg atau Peter Jackson. Malam yang ingin berpikir: David Fincher dengan The Social Network atau Ron Howard dengan A Beautiful Mind. Malam yang ingin jatuh cinta: Richard Linklater, Nora Ephron, atau Nancy Meyers.
Malam bersama anak: Tim Burton untuk yang berani, Paul King untuk yang lembut. Dan malam ketika Anda ingin percaya lagi pada film Indonesia: buka daftar mana pun dari empat bos besar, dan pilih dengan mata tertutup.
Bos dan tempat kesayangannya
Sutradara sering kembali ke tempat yang sama. Riri Riza dua kali ke Belitung, dan dua kali ke alam terbuka bersama Sherina: perkebunan di Jawa Barat lalu hutan Kalimantan. Ernest Prakasa setia pada Jakarta dan pinggirannya, dengan satu perjalanan ke Sumba dalam Susah Sinyal.
Fajar Bustomi dua kali ke Bandung tahun sembilan puluhan. Hanung Bramantyo ke Jawa masa lalu: Jepara dan Surabaya. Bene Dion Rajagukguk pulang ke tepi Danau Toba.
Di luar negeri, John Hughes hampir selalu ke pinggiran Chicago, dan John Carney ke Dublin. Linklater berpindah dari Wina ke Paris mengikuti dua tokohnya. Dan Lasse Hallström, entah di kota mana pun, selalu menemukan seekor anjing dan sebuah stasiun, halaman, atau jalan tempat anjing itu menunggu.
Membaca kredit seperti orang dalam
Bos21 ingin menularkan satu kebiasaan: membaca kredit. Di awal film, nama sutradara biasanya muncul paling akhir, tepat sebelum cerita dimulai. Di akhir film, namanya muncul paling awal. Dua posisi kehormatan untuk satu orang.
Di sekitarnya ada nama lain yang layak dikenali. Penulis skenario, yang kadang orang yang sama dengan sutradara, seperti pada film-film Ernest Prakasa dan John Hughes. Penata kamera, yang menentukan rupa tiap gambar. Penyunting, yang menentukan irama. Dan penata musik, yang menentukan kapan Anda menangis.
Sutradara memimpin mereka semua. Karena itu kami menyebutnya bos, dan karena itu kartu namanya kami letakkan tepat di bawah poster, di tempat yang paling mudah terlihat.
Tiga bos perempuan Indonesia
Lima film Indonesia di katalog dipimpin tiga perempuan, dan ketiganya bekerja di wilayah yang berbeda. Upi adalah yang paling senior: My Stupid Boss membuktikan ia piawai mengatur komedi, dan Sri Asih membuktikan ia sanggup memimpin film laga besar dengan efek visual.
Sabrina Rochelle Kalangie mewakili generasi baru. Home Sweet Loan bercerita tentang anak bungsu yang menjadi tulang punggung keluarga, dan film itu disambut penonton sebagai cermin hidup mereka sendiri. Hadrah Daeng Ratu membuat A Perfect Fit, romansa berlatar Bali tentang perancang sepatu dan penulis mode.
Tiga nama, lima film, rata-rata rating 7,08. Dan satu di antaranya, dengan 8,1, termasuk tujuh film Indonesia terbaik di katalog.
Bos bersaudara dan bos berpasangan
Daftar dua bos satu film menyimpan cerita tentang kerja sama. Jon dan Andrew Erwin adalah kakak beradik yang lama membuat film bersama, dan American Underdog adalah salah satu yang paling dikenal. Charles dan Daniel Kinnane, juga bersaudara, memimpin Home Team.
Valerie Faris dan Jonathan Dayton adalah suami istri yang berangkat dari dunia video musik. Little Miss Sunshine adalah film panjang pertama mereka, dan langsung meraih rating 7,7. Tyler Nilson dan Michael Schwartz bersahabat, dan mereka menulis The Peanut Butter Falcon khusus untuk seorang pemeran muda yang mereka kenal.
Di Indonesia, pasangan Fajar Bustomi dan Pidi Baiq mempertemukan orang film dengan orang buku. Dan Robert Ronny bersama Monty Tiwa mempertemukan seorang produser dengan seorang sutradara berpengalaman di Critical Eleven. Enam pasangan, enam alasan untuk berbagi kursi.
Dari bos termuda sampai bos tertua
Katalog ini merentang enam puluh dua tahun pembuatan film, dan para bosnya merentang beberapa generasi. Robert Stevenson, sutradara Mary Poppins, lahir pada awal abad kedua puluh dan sudah membuat film sejak zaman hitam-putih. Francis Ford Coppola, Martin Scorsese, dan Steven Spielberg adalah generasi yang mengubah Hollywood pada tahun tujuh puluhan.
John Hughes, Ron Howard, Rob Reiner, dan Penny Marshall membentuk wajah tahun delapan puluhan. Richard Linklater, David Fincher, dan Tim Burton muncul sesudahnya. Lalu generasi Jon Favreau dan Taika Waititi, dan kini generasi Carlson Young dan Leah McKendrick, dua bos muda dengan film dari 2024 sampai 2026.
Di Indonesia rentangnya lebih pendek dan lebih padat: dari Riri Riza dan Rudi Soedjarwo di awal abad ini sampai Ryan Adriandhy pada 2025. Dua puluh lima tahun, tiga generasi, dan kursi bos yang terus berganti tangan dengan baik.
Adu dua bos: tontonan berpasangan
Permainan yang menyenangkan untuk akhir pekan: pilih dua bos dengan wilayah serupa, tonton satu film dari masing-masing, lalu bandingkan. Keluarga menurut Ernest Prakasa dan menurut Yandy Laurens: Cek Toko Sebelah lawan Keluarga Cemara. Yang satu membuat Anda tertawa lalu terharu, yang lain terharu lalu tersenyum.
Remaja menurut John Hughes dan menurut Fajar Bustomi: The Breakfast Club lawan Dilan 1990. Chicago 1985 dan Bandung 1990, dua kota, dua bahasa, dan kegelisahan yang sama. Dunia ajaib menurut Tim Burton dan menurut Paul King: Alice in Wonderland lawan Paddington. Yang satu ganjil dan megah, yang lain hangat dan rapi.
Pahlawan super menurut Joko Anwar dan menurut Upi: Gundala lawan Sri Asih, dua film dari jagat yang sama dengan dua tangan berbeda. Dan cinta menurut Richard Linklater dan menurut Nora Ephron: Before Sunrise lawan You've Got Mail. Percakapan di jalanan Wina, dan surat elektronik di New York.
Sesudah menonton keduanya, tanyakan: bos mana yang lebih sabar? Mana yang lebih jenaka? Mana yang lebih percaya pada penontonnya? Dari pertanyaan seperti itu selera terbentuk, dan nama sutradara berubah dari tulisan kecil di poster menjadi alasan utama memilih film.
Lima pertanyaan sesudah film usai
Untuk melatih mata, ajukan lima pertanyaan tiap kali kredit bergulir. Adegan mana yang paling lama tinggal di kepala? Di mana kamera berdiri pada adegan itu? Kapan musik masuk, dan kapan layar sengaja dibiarkan hening? Wajah siapa yang paling lama disorot? Dan bagaimana film ditutup: dengan jawaban atau dengan pertanyaan?
Lima jawaban itu adalah lima keputusan sang bos. Sesudah beberapa film, Anda akan mulai menebak siapa sutradaranya sebelum membaca kartu nama. Dan pada saat itulah Bos21 sudah menjalankan tugasnya.
Bila menonton bersama anak, sederhanakan menjadi satu pertanyaan saja: "Kalau kamu bosnya, adegan mana yang akan kamu ubah?" Jawaban mereka sering mengejutkan, dan dari situ lahir penonton yang ikut berpikir. Siapa tahu, dua puluh tahun lagi, salah satu dari mereka duduk di kursi sutradara dan namanya tercetak pada kartu kecil di bawah sebuah poster.
Itulah cara terbaik menghormati kerja seorang sutradara: menonton dengan perhatian penuh, lalu membicarakan filmnya.
Pertanyaan yang sering diajukan
Jawaban lain ada di halaman Tanya jawab Bos21.
Kenali bosnya
Sebuah film adalah kerja ratusan orang, dan satu orang yang menyatukan semuanya. Dialah yang memilih di mana kamera berdiri, kapan musik masuk, dan berapa lama sebuah wajah boleh diam. Ketika sebuah film menyentuh Anda, sebagian besar sentuhan itu berasal dari keputusan-keputusan sang bos.
Bos21 mengajak Anda mengenal mereka. Baca kartu nama di bawah poster, pilih satu bos, tonton satu filmnya, lalu filmnya yang lain. Dan lain kali ketika kredit penutup bergulir, tunggulah sampai baris "sutradara" muncul. Itulah nama orang yang baru saja bercerita kepada Anda.
Pertanyaan
Apa itu Bos21?
Bos21 adalah panduan film berbahasa Indonesia yang menyusun 155 judul menurut sutradaranya. Tiap judul memiliki sinopsis, pemeran, durasi, rating, dan tombol Tonton sekarang menuju layanan resmi.
Mengapa sutradara disebut bos?
Karena di lokasi syuting sutradaralah yang memimpin semua orang dan mengambil keputusan terakhir. Nama mereka tertulis di kartu "Bos:" di bawah tiap poster.
Berapa sutradara yang ada di Bos21?
Ada 125 sutradara. Dua puluh satu di antaranya punya lebih dari satu film di katalog, dan 104 punya satu film.
Sutradara mana yang filmnya paling banyak?
Riri Riza dengan tujuh film, disusul Ernest Prakasa dengan lima, lalu Yandy Laurens dan Angga Dwimas Sasongko dengan empat.
Sutradara mana yang ratingnya paling tinggi?
Yandy Laurens, dengan rata-rata 8,17 dari empat film, termasuk Jatuh Cinta Seperti di Film-Film yang berating 8,8.
Berapa film yang disutradarai perempuan?
Dua puluh tujuh film, lima di antaranya film Indonesia.
Apa isi daftar film pertama?
Delapan film panjang pertama dari sutradaranya, seperti Petualangan Sherina, Janji Joni, Keluarga Cemara, dan Lion.
Bagaimana menemukan film dari sutradara dengan satu judul?
Ketik nama sutradaranya di kotak pencarian, atau buka halaman Semua film dan A–Z.
Bagaimana cara menonton film lewat Bos21?
Buka halaman film, pilih negara Anda, lalu tekan Tonton sekarang. JustWatch terbuka dan menampilkan layanan langganan, sewa, beli, dan gratis yang menyediakan judul itu.
Apakah Bos21 gratis?
Ya. Semua daftar, sinopsis, halaman bantuan, dan Daftar Saya terbuka gratis bagi setiap pengunjung.
Di mana Daftar Saya disimpan?
Daftar Saya tersimpan di peramban perangkat Anda sendiri dan terbuka dari tautan Daftar Saya di bilah atas.
7,6
6,3
7,9
8,0
6,6
7,5
8,8
8,4